Page 33 of 35

Review Film Daredevil, Pahlawan Super yang Bangkit dari Kekurangan Demi Niat Baik

Review Film Daredevil, Pahlawan Super yang Bangkit dari Kekurangan Demi Niat Baik – Apakah Anda penikmat film superhero yang selalu siap sedia membasmi kejahatan? Ada banyak tokoh pahlawan fiksi yang sukses menarik perhatian masyarakat. Salah satunya adalah Daredevil yang terkenal melalui komik Marvel.

Layaknya komik Marvel lainnya, Daredevil pun akhirnya diangkat ke layar lebar dengan menggandeng Ben Affleck sebagai tokoh utamanya. Ia berperan sebagai dua karakter sekaligus yakni Matt Murdock dan juga pahlawan bertopeng Daredevil.

Untuk versi filmnya sendiri, Daredevil pertama kali dirilis pada pertengahan Februari 2003 silam. Selain Ben Affleck, aktor papan atas lainnya yang terlibat adalah Jim Fitzgerald, Michael Clarke Duncan, hingga Colin Farrell.

Seperti film Spiderman, tokoh pahlawan tidak serta merta langsung muncul begitu saja. Sebuah insiden kecelakaan menghampiri karakter Matt Murdock yang membuat dirinya bisa mendapatkan keahlian khusus walaupun itu harus mengorbankan indera penglihatannya.

Untuk Anda yang belum pernah menonton film Daredevil, bisa kembali menontonnya melalui layanan streaming Vidio. Namun sebelum itu, simak berikut ini review film selengkapnya.

Efek Lebih Baik dari Film Superhero Serupa di Masanya

Rilis di tahun 2003, film Daredevil tidak mau ketinggalan menggunakan efek kamera yang luar biasa untuk menciptakan adegan yang lebih mendramatisir.

Jika membandingkan film Daredevil dengan film-film Marvel lainnya yang dirilis di era yang sama, tampaknya efek CGI yang ditampilkan terasa lebih baik.

Jika Anda melihat kembali film Spiderman yang dirilis pada 2002, bisa dibilang kualitas Daredevil selangkah lebih maju. Hal ini terlihat dari objek yang diberikan efek seperti benda melayang dan yang lainnya.

Namun, jika Anda memang mencari film superhero yang penuh dengan aksi perkelahian, Anda harus sedikit kecewa. Kembali membandingkan dengan film SpidermanDaredevil terlihat jarang terlibat pertikaian fisik dengan musuh-musuhnya.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-film-daredevil-pahlawan-super-yang-bangkit-dari-kekurangan-demi-niat-baik/

Review Film Daredevil, Pahlawan Super yang Bangkit dari Kekurangan Demi Niat Baik

Karakter Utama Kurang Ditonjolkan

Satu hal kekurangan dari film Daredevil adalah tokoh Matt Murdock yang kurang disorot kehidupan pribadinya.

Di awal pembukaan film, Matt remaja terlihat hidup bersama ayahnya yang begitu religius. Sebuah pembunuhan oleh orang tak dikenal pun membuat dirinya harus berpisah untuk selamanya.

Ketika Matt sudah beranjak dewasa, dirinya yang bekerja sebagai seorang pengacara tidak terlalu digambarkan dengan jelas. Ia hanya beberapa kali masuk ke pengadilan untuk meyakinkan penonton bahwa profesi utama dari sang pahlawan tak jauh dari advokat.

Karakter Matt justru lebih sering diturunkan pada sebuah diskusi bersama sahabatnya di sebuah restoran pada malam hari.

Berlatar Kota Besar

Layaknya film superhero keluaran Marvel lainnya seperti Spiderman hingga Hulk, Daredevil seolah kembali memotret kejahatan yang terjadi di kota besar seperti New York. Bukan saja karena tempat tinggal sang karakter sebagai manusia biasa, tapi juga para musuh ditemukan di sini.

Satu hal yang membuat Daredevil terlihat menarik untuk disaksikan adalah karena penggunaan kota New York yang dijadikan sebagai latar tempat hampir keseluruhan cerita. Namun yang membuatnya berbeda dengan cerita superhero lainnya adalah kurangnya detail dalam setiap lanskap kota yang diambil.

Jika dalam film Spiderman sang superhero terlihat seolah mengeksplorasi setiap suduh kota dan bangunan terkenal, Daredevil justru tidak begitu menonjolkan keindahan kota New York itu. Bahkan perkelahian antar dirinya dengan musuh-musuhnya hampir kebanyakan terjadi di dalam ruangan.

Cinta yang Kandas

Walaupun mengusung tema film superhero, sisipan cerita romansa tetap saja tidak bisa dihilangkan. Mungkin ini juga yang membuat film ini tidak terlalu kaku dan tidak fokus pada adegan saling pukul saja.

Hampir sama dengan kebanyakan tokoh pahlawan Marvel lainnya, tampaknya penggemar Daredevil tidak bisa mengharapkan kisah cinta yang berakhir bahagia.

Hubungannya dengan Elektra harus kandas ketika Bullseye dengan lincahnya menghabisi wanita yang dicintai oleh sang pahlawan.

Review Film: The Equalizer 3, Penampilan Denzel Washington Lawan Mafia Italia dengan Penuh Kharisma

Review Film: The Equalizer 3, Penampilan Denzel Washington Lawan Mafia Italia dengan Penuh Kharisma – Aktor kawakan Denzel Washington akhirnya kembali muncul di layar lebar lewat film trilogi terbarunya, The Equalizer. Dalam film ketiga ini, Denzel yang mengulangi perannya sebagai Robert McCall yang bertolak ke Italia Selatan untuk melarikan diri dari masa lalu. Alih-alih mendapatkan kedamaian, dia justru terlibat dengan Mafia Sisilia.

Selengkapnya, ini dia sinopsis hingga ulasan film The Equalizer 3 yang tayang mulai hari ini (30/08).

Sinopsis film The Equalizer 3

Film The Equalizer 3 dibuka dengan sekelompok pengedar narkoba di kebun anggur Italia yang tewas mengenaskan akibat dibunuh Robert McCall. Meski berhasil melenyapkan musuhnya, McCall mengalami luka tembak dan diselamatkan oleh polisi baik hati (Eugenio Mastrandrea) yang membawanya ke seorang dokter di kota kecil.

Saat proses recovery, dia menjalin hubungan dengan penduduk setempat yang akhirnya membuat dia diterima di lingkungan tersebut. Namun, McCall kemudian menyadari kehadiran para mafia yang mengancam dan memeras para penduduk.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-film-the-equalizer-3-penampilan-denzel-washington-lawan-mafia-italia-dengan-penuh-kharisma/

Review Film: The Equalizer 3, Penampilan Denzel Washington Lawan Mafia Italia dengan Penuh Kharisma

McCall pun mulai tergerak untuk melindungi penduduk yang merupakan teman-teman barunya dari kekuasaan mafia. Tak sendiri, McCall turut melibatkan CIA untuk melakukan investigasi terhadap sesuatu yang buruk dan besar di balik kehadiran para mafia tersebut.

Dikemas dalam porsi yang seimbang

Berbeda dari film action pada umumnya, The Equalizer 3 memiliki porsi yang seimbang antara adegan aksi dan suguhan cerita yang dibangun. Meski begitu, film ini mampu menyuguhkan percakapan, detail cerita, hingga suasana kota Italia Selatan yang apik dan terkesan jauh dari kata monoton.

Saya pribadi bahkan menikmati dan merasa penasaran dengan setiap adegan yang ditampilkan dalam film ini. Sayangnya, memang ada beberapa adegan yang plot hole sehingga menyajikan pergantian scene yang kurang mulus.

Review Film: Ketika Berhenti di Sini, Cerita tentang Kehilangan, Perpisahan, & Perjalanan Baru

Review Film: Ketika Berhenti di Sini, Cerita tentang Kehilangan, Perpisahan, & Perjalanan Baru – Perpisahan, kehilangan, dan kematian adalah momen yang paling sulit untuk dilupakan, at least untuk saya pribadi. Namun, sejak membaca sinopsis Ketika Berhenti di Sini yang mengangkat konsep AI, saya akhirnya memutuskan untuk menontonnya di bioskop.

Buat kamu yang masih ragu, mungkin ulasan ini bisa membantumu.

Sinopsis

Dita (Prilly Latuconsina), seorang creative designer yang sedang mencoba hidupnya kembali pasca kematian ayahnya. Ia bahkan nyaris tidak memiliki tujuan apa-apa lagi, dan memilih untuk hidup seperti robot. Makan, ke kampus, menggambar, bertemu teman, on repeat. Ya, Dita memang belum bisa menerima kematian itu karena ia dihantui rasa bersalah. Beruntung ada Ifan (Refal Hady), Untari (Lutesha), dan Awan (Sal Priadi), yang selalu menemaninya.

Hidup Dita yang flat tiba-tiba menjadi berubah sejak pertemuannya dengan Edi (Bryan Domani). As expected, keduanya saling jatuh cinta, Dita pun kembali menemukan kebahagiaanya.

Empat tahun berjalan, hubungan mereka ternyata semakin renggang. Nahasnya, saat sedang bertengkar hebat, Edi meninggal karena sebuah kecelakaan. Dita lagi-lagi harus menghadapi trauma akan kematian untuk kedua kalinya.

As time goes by, Dita mendapatkan sebuah kacamata dengan teknologi AI, di mana siapa pun yang memakainya akan melihat Edi sebagai virtual assistant layaknya manusia biasa. Kado ini ternyata sudah Edi persiapkan jauh sebelum kepergiannya.

Dita yang sudah bisa berdamai, tiba-tiba menjadi hilang kendali karena merasa Edi kembali hadir di hidupnya, meskipun hanya sebatas AI. Ia semakin tidak bisa membedakan antara kehidupan nyata dan virtual.

Bagaimana nasib Dita? Apakah ia bisa move on dari kematian Edi?

Filosofi kehidupan manusia yang searah dengan mata angin

Film Ketika Berhenti di Sini dibuka dengan narasi menarik tentang filosofi mandala, yang juga jadi salah satu alasan Dita menekuni bidang design. Tak hanya sebuah motif lingkaran, mandala memiliki filosofi yang lebih kompleks dan dalam. Mandala kerap dianggap sebagai alam semesta dengan titik pusat yang mewakili perpaduan harmonis antara diri sendiri dengan lingkungan.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-film-ketika-berhenti-di-sini-cerita-tentang-kehilangan-perpisahan-perjalanan-baru/

Review Film Ketika Berhenti di Sini Cerita tentang Kehilangan Perpisahan Perjalanan Baru

Empat titik mandala yang dijelaskan di film ini menggambarkan empat fase kehidupan Dita. Mulai dari Utara yang penuh dengan keserakahan, Barat yang penuh cinta, Selatan yang penuh amarah dan luka, lalu Timur yang jadi titik terakhir penuh kedamaian.

Penggunaan filosofi mandala ini menjadi poin menarik dan great comeback untuk Umay Shahab sebagai sutradara. Mengingat film pertamanya yang tidak meninggalkan kesan apa pun untuk saya.

Pendapat saya

Cara Umay membingkai perasaan kehilangan untuk memulai perjalanan baru lewat teka-teki dari Edi untuk Dita terasa apik dan rapi. Chemistry Prilly dan Bryan pun patut diapresiasi. Terasa luwas, natural, dan apa adanya. Oh iya, shout out untuk akting Prilly yang sangat totalitas, terutama pada adegan menangis.

Tak mudah untuk seseorang akting menangis, apalagi di film ini Prilly diceritakan memiliki trauma sangat mendalam. Mulai dari gesture gemetar, teriak, depresif, you did great, Prilly!

Konsep AI yang menjadi highlight utama pun terlihat matang. Tidak sekadar gimmick saja. Beberapa detail terkait AI cukup terlihat believable dan relevan dengan zaman sekarang.

Poin menarik lainnya adalah pemilihan soundtrack yang ciamik! Saya bahkan auto cari daftar playlist-nya.

Sayangnya, di 30 menit terakhir, cerita film ini terasa melemah. Emosi dan tense yang sudah dibangun kuat sejak awal perlahan mulai runtuh. Duo combo, Untari dan Awan, terasa hanya tempelan di film ini, padahal kehadiran mereka menjadi nyawa penting. Refal Hady sebagai Ifan, sahabat sekaligus kekasih Dita, pun somehow terasa hambar.

Saya juga merasa screentime Cuti Mini sebagai ibu Dita dan Widyawati sebagai oma Edi masih bisa ditambah untuk mengembalikan emosi yang sempat hilang.

Resensi Film Kembang Api: 4 Orang Kopi Darat untuk Akhiri Hidup Bersama Tapi Gagal Melulu Sampai Emosi

Resensi Film Kembang Api: 4 Orang Kopi Darat untuk Akhiri Hidup Bersama Tapi Gagal Melulu Sampai Emosi – Kembang Api adalah karya sineas Herwin Novianto yang diadaptasi dari film Jepang berjudul 3ft Ball and Soul garapan sutradara Yoshio Kato. Film ini tayang di bioskop mulai 2 Maret 2023.

Dibintangi Marsha Timothy, Ringgo Agus Rahman, Donny Damara, dan Hanggini, film Kembang Api rilisan Falcon Pictures bergerak lewat premis unik tentang empat orang yang mencoba bunuh diri.

Langit Mendung (Donny Damara), Anggrek Hitam (Ringgo Agus Rahman), Tengkorak Putih (Marsha Timothy), dan Anggun (Hanggini) adalah anggota grup WhatsApp Kembang Api.

Mereka bermufakat bertemu di sebuah gudang tak berkunci untuk bunuh diri bersama dengan meledakkan diri pakai bola kembang api. Berikut resensi film atau review film Kembang Api.

Langit Mendung

Langit Mendung membuat bola kembang api raksasa terbungkus kertas cokelat bertuliskan “urip iku urup.” Dalam bahasa Indonesia, berarti hidup itu menyinari lingkungan sekitar. Beberapa menit kemudian, Anggrek Hitam dan Tengkorak Putih datang dengan wajah kusut.

Anggun yang masih SMA terlambat 15 menit karena ada praktikum bahasa di sekolah. Mereka lantas meledakkan diri dengan bola kembang api. Anehnya, Langit Mendung balik lagi ke gudang dalam kondisi tubuh dan tulang utuh, segar bugar.

Sejurus kemudian, Anggrek Hitam dan Tengkorak Putih datang dengan wajah kusut. Anggun datang terlambat 15 menit karena ada praktikum bahasa. Ketiganya tak ingat bahwa sebelumnya pernah bertemu untuk bunuh diri. Langit Mendung menduga ini dejavu.

Setelahnya, mereka meledakkan diri lagi dengan bola kembang api. Apes. Langit Mendung kembali ke gudang dalam kondisi sehat. Anggrek Hitam datang. Ia syok mendapati diri hidup lagi. Padahal, ia ingat betul telah memencet tombol detonator lalu kembang api meledak. Apa yang terjadi?

80 Persen…

Kembang Api tak membawa penonton ke mana-mana karena hampir 80 persen film ini berisi adegan di gudang. Keempat tokoh pun pakai baju dan properti yang sama, menghadap bola kembang api raksasa.

Ajaibnya, film ini tak lantas membosankan. Rahasianya, terletak pada inteprestasi para bintang yang meyakinkan. Donny Damara sebagai yang paling tua mengambil pendekatan paling relaks.

Sebagai “dedengkot” yang mengide bunuh diri, ia santuy karena punya persiapan paling paripurna dari aspek motivasi, surat permintaan maaf kepada keluarga, hingga membaca sejumlah kemungkinan jika aksi bunuh diri ini berhasil.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/resensi-film-kembang-api-4-orang-kopi-darat-untuk-akhiri-hidup-bersama-tapi-gagal-melulu-sampai-emosi/

Resensi Film Kembang Api

Marsha dan Ringgo

Ringgo dan Marsha mengambil pendekatan hampir sama, yakni pasang wajah muram sebagai “sinyal” bahwa beban hidup mereka berat. Bedanya, ada di latar belakang. Ringgo depresi karena berkali bunuh diri tapi gagal melulu.

Marsha, meski kelam, masih punya empati untuk memahami persoalan orang-orang yang baru dikenalnya. Hanggini adalah kejutan. Ia tipikal anak Jakarta pada umumnya.

Dengan aksesn khas anak gaul Ibu Kota, sumbu pikir pendek, merasa paling berat hidupnya, dan berpedoman jalan pintas seperti mengakhiri hidup adalah solusi efektif membereskan persoalan.

Temanya Kelam

Temanya kelam. Para tokoh kehilangan harapan, memilih tak punya harapan, dan ogah melihat harapan yang sebenarnya ada namun tertutup masalah yang seolah setinggi puncak Everest.

Dengan empat ujung tombak yang depresif, bukan berarti Kembang Api jadi gelap, suram, dan lebay. Donny dan Hanggini adalah pencair suasana meski setelah penonton tahu masalah mereka sebenarnya, terasa betul beratnya beban keduanya.

Sensasi komedi ditabur dari kegagalan bunuh diri yang terjadi berkali-kali, salah ucap, gugatan terhadap aturan grup WhatsApp hingga salah satu tokoh menjadi kaum “mendang-mending” lantaran merasa masalahnyalah paling berat dan yang lain cetek.

Menertawakan Masalah

Penonton diajak menertawakan masalah layaknya ujaran orang Jawa kekinian: Kuat dilakoni, yen ora kuat ditinggal ngopi. Poin pentingnya, di balik gelak tawa melihat polah para tokoh, penonton diajak berpikir tentang banyak hal.

Pertama, siapa sih yang paling berhak mengakhiri hidup? Kedua, apa definisi dewasa dan kuat mental menghadapi persoalan? Ketiga, sudah cukupkah kita menyayangi diri sendiri dan keluarga (selama ini)? Keempat, benarkah masalah kita lebih berat dari orang lain?

Terakhir, mengapa begitu yakin bahwa masalah Anda paling berat sehingga merasa punya hak untuk bunuh diri? Memangnya, masalah Anda sudah ditimbang dan dibandingkan dengan berat masalah orang lain? Memangnya ada alat penimbang masalah hidup?

Urip Iku Urup

Setelah pertanyaan terakhir terjawab, silakan kembali ke pertanyaan awal. Inilah benih-benih perenungan yang diceritakan dengan detail dan rapi oleh Herwin Novianto. Tanpa menggurui karena sejatinya para tokoh di film ini belajar memaknai masalah, hidup, dan berempati.

Dari proses trial and error percobaan bunuh diri, penonton menginsyafi banyak hal. Herwin Novianto pernah membuai kita dengan Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. Kembang Api adalah comeback Herwin yang simpel, jenaka, berdimensi sekaligus mengesankan.

Saat keluar dari bioskop, saya bertanya-tanya: bagaimana mau urup kalau yang urip malah pengin mati? Pertanyaan sederhana, nyelekit, dan menggiring kita berkaca kepada pikiran dan hati. Dengan catatan, hati dan pikiran kita harus bening. Oke?

Review Film Selesai, Angkat Kisah Perselingkuhan yang Kerap Terjadi di Dunia Nyata

Review Film Selesai, Angkat Kisah Perselingkuhan yang Kerap Terjadi di Dunia Nyata – Kisah perselingkuhan sudah menjadi hal yang biasa di dengar, mulai dari hubungan yang hanya sebatas pacaran hingga yang sudah menikah. Berbagai kisah viral tentang perselingkuhan juga menjadi perbincangan sendiri di berbagai platform sosial media.

Bukan menjadi hal yang tabu lagi untuk dibahas, seperti isu yang diangkat untuk salah satu Film Indonesia berjudul Selesai. Dibintangi oleh aktor dan aktris ternama Indonesia yaitu Gading Marten, Ariel Tatum, dan Anya Geradine yang akan memerankan hubungan cinta segitiga.

Selain ketiga pemeran utama tersebut, film Selesai juga dibintangi aktor dan aktris lainnya seperti  H. Imam Hendarto Sukarno, Tika Panggabean, Faris Nahdi, dan Marini Burhan.

Cerita dari film ini mungkin akan sesuai dengan berbagai kasus yang terjadi di dunia nyata dan kehidupan sehari-hari yang dialami berbagai pasangan. Penasaran? Yuk simak review film dan sinopsisnya berikut!

Sinopsis

Bercerita tentang kehidupan suami istri yang diperankan Ariel Tatum dan Gading Marten. Sang istri bernama Ayu dan suaminya bernama Broto. Sebuah kejadian yang mengawali terungkapnya sebuah pengkhianatan dalam sebuah hubungan.

Saat itu Ayu menemukan sebuah barang berupa celana dalam yang pasti bukan miliknya dan bertuliskan nama seorang perempuan yaitu Anya.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-film-selesai-angkat-kisah-perselingkuhan-yang-kerap-terjadi-di-dunia-nyata/

Review Film Selesai, Angkat Kisah Perselingkuhan yang Kerap Terjadi di Dunia Nyata

Sontak Ayu merasa kecewa dan meminta berpisah dengan Broto. Karena itu bukanlah pertama kalinya, ternyata Broto sudah 3 kali diketahui berselingkuh dengan Anya. Kali ini hal yang menyakiti Ayu kembali terulang, sehingga pilihan bercerai adalah yang sangat diinginkannya kali ini.

Sulit Berpisah

Namun ada kejadian yang membuat mereka sulit untuk berpisah, yaitu ibu Broto yang juga mertua Ayu. Sang mertua memang sangat menyayangi menantunya seperti anak sendiri, begitu juga Ayu yang tidak ingin menyakiti hati mertuanya.

Saat terjadi pertengkaran kembali antara Ayu dan Broto, sang mertua datang dan ingin menginap disana. Takut akan membuat ibunya sedih dan khawatir mereka berpura-pura tidak memiliki masalah saat itu.

Banyak cerita dan rahasia yang menyebabkan perselingkuhan ini ada, apakah hanya dari Broto atau Ayu juga memiliki andil di dalamnya. Hingga sang mertua sebenarnya tau apa yang terjadi pada mereka, bagaimana kelanjutan hubungan ini?

Nonton Film Selesai di Vidio!

Film Selesai merupakan salah satu film Indonesia yang memiliki banyak pesan moral di dalamnya. Berlatarkan tahun 2020 saat virus corona sedang mewabah dengan luasnya. Anda bisa nonton film Selesai melalui platform streaming Vidio.

Dukung dunia perfilman Indonesia dengan menonton melalui platform resmi seperti Vidio. Nikmati juga film seru lainnya dengan download aplikasi Vidio di playstore ataupun app store di handphone Anda, untuk mencoba pengalaman menonton dimana saja dan kapan saja!

Review Drama: The Uncanny Counter Season 2, Kembalinya Para Pembasmi Roh Jahat dengan Cerita yang Lebih Seru

Review Drama: The Uncanny Counter Season 2, Kembalinya Para Pembasmi Roh Jahat dengan Cerita yang Lebih Seru – The Uncanny Counter season 2 jadi salah satu sekuel drama yang saya tunggu penayangannya. Setelah 2 tahun penantian, akhirnya drama Korea yang dibintangi Joe Byeong-gyu dan Kim Se-jeong ini tayang pada 29 Juli lalu. Kira-kira apakah jalan ceritanya akan semenarik musim sebelumnya? Simak review drama The Uncanny Counter season 2 dari saya berikut ini, yuk!

Sinopsis

Buat yang belum menonton season pertama, drama The Uncanny Counter merupakan drama yang mengusung genre misteri, supranatural, dan laga. K-drama adaptasi webtoon ini menceritakan tentang Counter, sekelompok orang yang memiliki kekuatan supranatural untuk mengusir roh-roh jahat yang ingin menguasai jiwa manusia. Mereka adalah Soo Moon, Do Ha-na, Ga Mo-tak, Chu Mae-ok, dan Choi Jang-mul. Di akhir musim pertama para Counter berhasil mengalahkan roh jahat terkuat. Namun, kekuatan beberapa orang counter menjadi melemah.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-drama-the-uncanny-counter-season-2-kembalinya-para-pembasmi-roh-jahat-dengan-cerita-yang-lebih-seru/

Review Drama: The Uncanny Counter Season 2, Kembalinya Para Pembasmi Roh Jahat dengan Cerita yang Lebih Seru

Nah, di musim kedua ini para Counter masih menjalankan misinya untuk melenyapkan roh jahat yang turun ke bumi. Di sisi lain mereka juga harus berlatih untuk memperkuat kemampuannya. Di tengah kehidupan tenang yang dijalani So Moon dan kawan-kawan, para Counter di Tiongkok berusaha menangkap tiga roh jahat yang memiliki kekuatan besar. Sayangnya, mereka kalah dan jiwa mereka pun dihisap oleh ketiga roh jahat tersebut yang membuatnya memiliki kemampuan seperti para Counter.

Aksi balas dendam para Counter

Pemimpin roh jahat yang membunuh para Counter di Tiongkok adalah Hwang Pil-gwang yang ternyata adalah dalang penipuan investasi palsu. Setelah mendapatkan kekuatan para Counter mereka pun kembali ke Korea Selatan untuk menjalankan misi. Saat itu, tanpa sengaja Min-ji (kenalan dari para Counter di Korea) bertemu dengan geng roh jahat tersebut dan menjadi korban mereka.

Mengetahui hal ini So Moon dan kawan-kawan ingin membalas dendam dan melenyapkan ketiga roh jahat tersebut. Namun, hal itu tidaklah mudah karena ketiga roh jahat telah memiliki kemampuan yang sama dengan para Counter. Mereka pun mencari personil tambahan untuk menghadapi para roh jahat tersebut.

Review Film India Table No.21 Ceritakan Sepasang Suami Istri Yang Terjebak Dalam Permainan

Review Film India Table No.21 Ceritakan Sepasang Suami Istri Yang Terjebak Dalam Permainan – Film India berjudul Table No. 21 yang bergenre thriller psikologis yang melibatkan sepasang suami istri dalam sebuah permainan. Permainan yang ditawarkan menarik perhatian pasangan ini karena bisa memenangkan hadiah besar, bahkan permainan yang diadakan di tempat yang mewah.

Table No. 21 hadir di bawah Eros International, salah satu rumah produksi film India yang terkenal menghasilkan berbagai film India populer setiap tahunnya. Beberapa nama pemain film ini juga merupakan artis Bollywood ternama seperti Rajeev Khandelwal, Tena Desae, Paresh Rawal, Asheesh Kapur dan masih banyak lagi.

Permainan apa yang sebenarnya dimainkan sepasang suami istri ini hingga bisa medapat hadiah besar? Bagaimana mereka melewatinya? Film ini ternyata juga memiliki pesan moral yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Simak review film singkatnya berikut ini!

Diundang Ke Resor Mewah

Film India Table No. 21 ini menceritakan sepasang suami istri bernama Vivaan dan Siya, dimana mereka mendapatkan undangan untuk datang ke sebuah resor mewah. Bukan hanya untuk liburan ke fiji gratis karena mereka memenangkan liburan, namun juga diundang untuk bermain sebuah permainan dengan hadiah lebih besar lagi.

Sepasang suami istri itu menerima tantangan yang diberikan Mr Khan. Permainan tersebut disebut dengan Table No. 21 yang ternyata dipantau langsung oleh Mr Khan. Mereka diberi pertanyaan yang harus mereka jawab secara jujur, namun lama kelamaan pertanyaan yang diberikan menjurus kepada rahasia gelap mereka di masa lalu.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-film-india-table-no-21-ceritakan-sepasang-suami-istri-yang-terjebak-dalam-permainan/

Review Film India Table No.21 Ceritakan Sepasang Suami Istri Yang Terjebak Dalam Permainan

Mereka harus menanggung rasa malu, takut dan curiga saat menjawab pertanyaan yang diberikan agar tetap hidup dan bisa melanjutkan permainan tersebut. Berhasilkan mereka melakukannya demi hadia besar?

Pesan Moral

Pesan yang paling terlihat dari permainan dalam film Bollywood ini adalah bagaimana mereka menyoroti nilai-nilai masyarakat modern yang banyak dikuasai oleh nafsu, rasa takut dan suka menghakimi orang lain. Dari sini juga kita belajar untuk mempertahankan nilai-nilai moral yang baik untuk menjaga integritas dan tidak mudah menghakimi.

Pesan lainnya adalah menghindari keserakahan. Anda bisa melihat pasangan suami istri ini ternyata sangat berhasrat dengan kekayaan materi hingga tidak memikirkan dampak buruk yang akan terjadi. Hal ini menjadi refleksi bagi penonton untuk menghindari sikap tersebut.

Nonton Film Table No. 21 di Vidio

Anda yang penasaran dengan cerita lengkapnya bisa nonton nonton film Table no 21 melalui platform streaming Vidio. Film India yang ditonton di Vidio pastinya sudah dilengkapi dengan subtitle Indonesia.

Jangan lupa download aplikasi Vidio di app store atau di playstore handphone Anda, untuk menikmati pengalaman menonton dimana saja dan kapan saja hanya di Vidio!

Review Film Fast X (2023)

Review Film Fast X (2023) – Salah satu waralaba film terbesar, yaitu Fast & Furious, masih terus berkembang dan kini sudah sampai di film kesepuluhnya! Yap, Universal Pictures akhirnya merilis Fast & Furious 10 atau yang memiliki judul resmi Fast X. Film ini rencananya bakal menjadi awal untuk akhir dari kisahnya Dominic Toretto dan keluarganya yang bakal dibagi dalam beberapa film.

Kali ini, Fast X digarap oleh Louis Leterrier, sosok yang juga pernah menyutradarai Now You See Me (2013), Clash of the Titans (2010), dan The Incredible Hulk (2008). Film ini dibintangi deretan aktor ternama Hollywood, di antaranya Vin Diesel, Michelle Rodriguez, Jason Momoa, John Cena, Tyrese Gibson, Ludacris, dan aktor lainnya baik yang lama di Fast & Furious maupun yang baru.

Jalan cerita Fast X dibikin memiliki koneksi dengan Fast Five (2011). Kamu yang menonton Fast Five pastinya tahu bahwa Dom dan keluarganya menghadapi Hernan Reyes. Nah, anaknya Hernan, yaitu Dante Reyes, datang ke Fast X untuk melakukan balas dendam atas kematian ayahnya serta Dom yang juga mengambil semua harta keluarganya.

Review film Fast X

Ketika nilai kekeluargaan Dom semakin mengalami pengujian berat

Kekeluargaan Dom memang selalu diuji sejak awal Fast & Furious. Namun, Fast X bisa dibilang sebagai ujian terberat bagi Dom dan keluarganya di sepanjang kisah hidupnya di Fast & Furious. Kamu yang mengikuti kisahnya Dom pastinya tahu bahwa anggota keluarganya terus bertambah. Jumlah anggota keluarganya Dom yang semakin banyak inilah yang akhirnya menyulitkan Dom di Fast X.

Dante tahu bahwa Dom sangat mengutamakan keluarganya dan hal tersebut dilihat sebagai titik lemahnya Dom. Alhasil, Dante membalaskan dendamnya dengan cara memecah belah keluarganya Dom untuk menguji apakah Dom mampu menyelamatkan semua orang yang dia cintai. Seperti beberapa film Fast & Furious sebelumnya, Dom kembali mengaktifkan jiwa superspy atau mata-mata supernya untuk bisa menyelamatkan keluarganya yang dipecah ke berbagai negara berbeda.

Sebelum film ini dirilis, sutradara Leterrier pernah berjanji bahwa elemen balapan jalanan bakal kembali ke Fast X. Memang benar ada satu momen yang memperlihatkan Dom adu balapan dengan Dante di jalanan Rio de Janeiro. Namun setelah melihat keseluruhan film ini, saya enggak setuju dengan pernyataannya Leterrier karena momen balapan jalanan Dom dan Dante bisa dibilang hanya secuil dan tidak memiliki efek besar untuk membuat Fast X terasa seperti kembali ke akarnya.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-film-fast-x-2023/

Review Film Fast X (2023)

Nyatanya, Fast X tetap mempertahankan elemen aksi di luar nalar yang selama ini dikeluhkan para penggemar film Fast & Furious terdahulu. Kamu bakal tetap menemukan banyak momen kebetulan yang tidak masuk akal selama menonton film ini. Sisi positifnya, momen gila seperti pergi ke luar angkasa hanya dengan mobil, yang ditampilkan pada F9 (2021), untungnya tidak ditemukan lagi di Fast X.

Sadar bahwa Fast X memiliki hubungan cerita dengan Fast Five, sutradara Leterrier terlihat jelas meminjam beberapa elemen dari Fast Five untuk dibuat ulang di filmnya. Selain adegan flashback, momen ketika Dom dan Dante berhadapan sebelum adu balapan mengingatkan saya kepada momen Dom berhadapan dengan Luke Hobbs. Momen ketika Aimes bekerja sama dengan Dom juga membuat saya teringat dengan momen Dom dan Hobbs pertama kali bekerja sama di Fast Five.

Penampilan Jason Momoa benar-benar gila dan menakutkan

Kamu yang sempat meragukan kemampuan Jason Momoa dalam memerankan karakter villain bakal benar-benar dibungkam setelah melihat penampilan sang aktor di Fast X. Di antara semua aktor yang tampil di film ini, Momoa jadi yang paling mencuri perhatian. Momoa mampu membuat Dante menjadi villain yang benar-benar gila dan mengerikan tanpa harus terlihat menakutkan secara dandanan.

Dengan dandanan yang flamboyan dan perlente, kamu enggak bakal menyangka Dante adalah villain “sakit” yang level gilanya hampir setara dengan Joker. Selama menjalankan penyiksaannya, Dante melakukannya bahkan sambil cengengesan. Selama menonton Fast X, kamu seakan dibuat pesimis dengan nasibnya Dom dalam menghindari kegilaannya Dante. Saya bisa bilang bahwa pemilihan Momoa sebagai Dante adalah keputusan yang tepat.

Seakan mengukuhkan tema keluarga di Fast & Furious, hampir semua karakter baru yang muncul di Fast X ternyata punya hubungan keluarga dengan karakter lama Fast & Furious. Kerennya dari Fast & Furious adalah waralaba ini mampu mengumpulkan banyak aktor Hollywood ternama walau filmnya dianggap semakin tidak masuk akal. Buktinya, Fast X benar-benar bertabur bintang!

Adegan aksi melimpah yang mampu memacu adrenalin

Di luar jalan ceritanya yang masih banyak menampilkan momen tidak masuk akal, hal lainnya yang patut diapresiasi dari Fast X adalah adegan aksi nonstopnya yang pastinya membuat para penggemar film aksi bakal benar-benar puas. Selain aksi kejar-kejaran, film ini menampilkan lebih banyak ledakan dan pertarungan tangan kosong. Enggak diragukan lagi bahwa Fast X adalah paket aksi yang lengkap.

Aksi lengkap yang disajikan Fast X juga didukung dengan kualitas CGI yang terlihat mulus. Walau adegan aksinya terlihat sangat gila, sutradara Leterrier tidak hanya mengandalkan CGI dalam menampilkan aksinya. Sang sutradara mengaku bahwa dia juga menggunakan banyak practical stunt. Enggak heran beberapa aksi gila di Fast X terasa cukup nyata.

Dari segi scoring, efek audio yang digunakan juga terasa tepat dengan momen di hampir sepanjang film. Kamu juga bisa mendengar lantunan beberapa lagu hiphop serta musik Latin yang semakin memeriahkan filmnya. Sayangnya, film ini tampaknya tidak melahirkan soundtrack ikonis seperti “See You Again” atau “Tokyo Drift”.

Fast X menjadi bukti bahwa waralaba Fast & Furious tampaknya sulit untuk kembali ke elemen akar mereka, yaitu balapan jalanan. Film ini memang menampilkan momen adu balapan antara Dom dan Dante. Namun secara keseluruhan, Dom tetap kembali beraksi layaknya “superhero” dalam menjaga keutuhan keluarganya dari ancamannya Dante. Bicara soal Dante, Jason Momoa bisa dibilang sebagai MVP di film ini dengan akting gilanya!

Setelah baca review film Fast X, apakah kamu jadi tertarik menonton film aksi ini? Buat yang sudah menonton, jangan lupa bagikan pendapat kamu tentang film ini, ya!

Review Film: Black Adam, Debut Dwayne Johnson sebagai Powerful Antihero dengan Konsep yang Pecah!

Review Film: Black Adam, Debut Dwayne Johnson sebagai Powerful Antihero dengan Konsep yang Pecah! – Setelah The Batman, tahun ini DC kembali merilis film superhero terbaru berdasarkan karakter DC Comics, yakni Black Adam. Bagi yang belum tahu, film superhero yang paling ditunggu-tunggu ini merupakan spin-off dari film Shazam! (2019) sekaligus menjadi film ke-11 di DC Extended Universe (DCEU) yang digarap oleh sutradara Jaume Collet-Serra.

Setelah penantian panjang, akhirnya Black Adam sudah bisa kamu nikmati di layar lebar bioskop mulai 19 Oktober kemarin. Nah, sebelum menyaksikannya secara langsung, berikut ulasan singkat dari Beauty Journal untuk film debut Dwayne Johnson sebagai superheroLet’s scroll down!

Sinopsis Black Adam

Black Adam menceritakan asal usul antihero tituler, salah satu metahuman paling kuat di alam semesta DC. Awalnya, Black Adam adalah seorang penduduk Khandaq bernama Teth-Adam yang memiliki kekuatan maha kuasa para dewa. Namun, ia justru menggunakan kekuatannya dengan cara yang salah sehingga membuatnya dikurung hingga ribuan tahun lamanya.

5.000 tahun berlalu, Black Adam kembali bebas dan berkeliaran di zaman modern. Meski sempat kebingungan, kedatangannya ini bermaksud baik, yakni berupaya melindungi penduduk Khandaq. Lalu, munculah sosok legenda yang ditampilkan dalam buku dan cerita leluhur rupanya berbeda dengan kisah sebenarnya sehingga membuat Justice Society: Hawkman, Dr. Fate, Atom Smasher, dan Cyclone datang mengincar dirinya.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-film-black-adam-debut-dwayne-johnson-sebagai-powerful-antihero-dengan-konsep-yang-pecah/

Review Film: Black Adam, Debut Dwayne Johnson sebagai Powerful Antihero dengan Konsep yang Pecah!

Kondisi itu pun membuat Black Adam dan Justice Society cekcok hingga nyaris membuat kota Khandaq hancur lebur. Berawal dari pertarungan inilah mereka tersadar akan musuh yang sebenarnya, yaitu Sabbac.

Aksi totalitas Dwayne Johnson perankan karakter superhero

Salah satu highlight di film ini adalah karakter Black Adam yang diperankan oleh Dwayne Johnson. Meski ini adalah pengalaman pertama memerankan karakter superhero, aktor yang juga dikenal dengan nama The Rock ini ternyata mampu membawakan perannya dengan totalitas. Dibandingkan dengan karakter dia di film-film sebelumnya, sebenarnya persona kali ini tak jauh berbeda, namun nampak lebih ebih sempurna dengan versi lebih cool dan powerful.

Film ini juga tak sepenuhnya mengubah sifat dan watak yang biasa ditunjukkan Dwayne di film-film sebelumnya, di mana aktor 50 tahun ini kembali ditampilkan dengan watak yang keras kepala dan sedikit kocak. Tenang meski film ini memiliki sentuhan komedi, leluconnya tidak terkesan garing atau berlebihan.

Suguhkan kisah apik dengan plot twist menarik

Black Adam bisa dibilang merupakan film superhero tipe serius. Meski memiliki perpaduan alur maju mundur, jalan ceritanya tetap mudah dipahami oleh penonton awam seperti saya. Ceritanya juga apik, tak mudah ditebak, dan jauh dari kata monoton dengan beberapa plot twist yang menarik. Soal audio, visual, dan CGI juga enggak perlu diragukan lagi.

Jika ditanya apakah harus menonton seri film lainnya, sejujurnya saya sendiri masih bisa menikmati meski termasuk awam DC Extended Universe. Jadi, jika kamu seorang pemula atau belum sempat menyaksikan seri lainnya, it’s really okay. Film Black Adam tetap layak untuk ditonton. Psst, ada after credit yang menunggumu di akhir film!

 

Sinopsis dan Review Peter Pan and Wendy, Cerita Klasik dalam Balutan Storytelling Gaya Baru

Sinopsis dan Review Peter Pan and Wendy – Karya klasik dari J.M Barrie kembali dihidupkan lewat film bertajuk Peter Pan and Wendy (ditulis secara resmi sebagai Peter & Wendy). Film yang disutradarai oleh David Lowery ini sudah bisa disaksikan lewat platform Disney Plus Hotstar mulai Jumat (28/4/2023) lalu.

Wendy (Ever Anderson) adalah gadis muda pemberani yang merupakan si sulung dari keluarga Darling. Malam sebelum keberangkatannya ke sekolah asrama, sebuah keajaiban datang kepadanya.

Si peri mungil Tinker Bell (Yara Shahidi) dan Peter Pan (Alexander Molony) yang biasa ia baca ceritanya di buku dongeng, muncul di rumah mereka. Peter Pan rupanya sedang mengejar bayangannya yang ngumpet di salah satu sudut rumah Wendy.

Bersama dua adiknya, John (Joshua Pickering) dan Michael (Jacobi Jupe), Wendy melompat dari balkon rumahnya, terbang menuju Neverland.

Captain Hook

Perjalanan di Neverland tak seindah bayangan Wendy, John, atau Michael. Begitu melayang di atas Neverland, kawanan ini ditembak oleh musuk bebuyutan Peter Pan, Captain Hook (Jude Law).

Pria yang satu tangannya digantikan dengan pengait ini memang punya dendam kesumat kepada Peter Pan.

“Jangan pernah menyebut nama itu di kapalku,” kata Captain Hook dengan ketus.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/sinopsis-dan-review-peter-pan-and-wendy-cerita-klasik-dalam-balutan-storytelling-gaya-baru/

Sinopsis dan Review Peter Pan and Wendy, Cerita Klasik dalam Balutan Storytelling Gaya Baru

Wendy Menyelamatkan Adik-adiknya

Gara-gara serangan Captain Hook, Wendy terpisah dari Peter dan adik-adiknya. John dan Michael tertangkap sang kapten bajak laut, bahkan hendak dieksekusi. Wendy yang bertemu dengan kawanan The Lost Boys, mencoba menyelamatkan John dan Michael.

Perjumpaan Wendy dengan Captain Hook selanjutnya, mengungkit kenangan lama yang terkubur dalam diri sang kapten. Tak hanya itu, Wendy juga berhasil menyibak hubungan masa lalu antara Peter Pan dan musuh bebuyutannya ini.

Gaya Penceritaan Baru

Peter Pan and Wendy memang berisi sejumlah elemen yang berkiblat pada sumber aslinya. Mulai dari Peter Pan yang menjahit bayangannya, The Ticking Crocodile alias buaya yang berdetak, hingga “alamat” Neverland: bintang kedua di kanan dan lurus terus sampai pagi.

Namun elemen yang direkonstruksi dalam film ini juga tak kalah banyak. Termasuk isu inklusi dan keberagaman yang dilekatkan kepada sejumlah karakter di film ini. Maka ditemukanlah karakter yang keluar dari “pakem” mulai dari perempuan dalam jajaran The Lost Boys dan Tinker Bell berkulit gelap.

Peter Pan and Wendy juga menawarkan storytelling baru dari kisah klasik mengenai seorang anak yang takut tumbuh dewasa. Mulai dari penceritaan yang difokuskan kepada karakter Wendy, hingga twist soal masa lalu Peter Pan dan hubungannya dengan Captain Hook.