Page 33 of 35

Review Drama Korea: Celebrity, Angkat Sisi Gelap Dunia Seleb & Influencer di Media Sosial

Review Drama Korea: Celebrity, Angkat Sisi Gelap Dunia Seleb & Influencer di Media Sosial – Beberapa hari terakhir, timeline Instagram saya diramaikan dengan review drama Korea Celebrity. Saya pun akhirnya jadi penasaran untuk menyaksikan drama yang dibintangi oleh Park Gyu-young, Kang Min-hyuk, dan Lee Chung-ah ini. Terlebih, beberapa influencer tanah air pun turut memberikan review dan pandangan mereka.

Hmm, apakah ceritanya memang sebagus itu? Simak ulasan saya selengkapnya berikut ini, yuk!

Sinopsis

 

Secara garis besar, Celebrity mengangkat kisah tentang sisi gelap dunia selebritas atau influencer di Korea Selatan. Cerita bermula ketika Seo A-ri, seleb Instagram dengan 1,3 juta followers yang melakukan live streaming untuk mengungkap seputar kebusukan yang dilakukan para selebgram. Siaran langsung tersebut langsung heboh lantaran Seo A-ri dikabarkan sudah meninggal beberapa bulan lalu.

Dalam siaran tersebut, A-ri menceritakan tentang awal mula ia memulai kariernya sebagai seorang influencer. Sebelumnya, ia adalah seorang putri dari keluarga pengusaha kaya raya, namun mereka tiba-tiba bangkrut setelah ayahnya meninggal. Ia pun terpaksa mengubur mimpinya dan bekerja menjadi tulang punggung keluarga sebagai sales kosmetik. Suatu hari ia bertemu dengan Oh Min-hye, teman SMA nya yang kini menjadi sosialita terkenal. Oh Min-hye mengundang Seo A-ri untuk datang sebuah pesta seleb terkenal di Korea Selatan.

Di pesta tersebut, A-ri justru menjadi pusat perhatian sehingga pengikut di Instagramnya pun ikut naik pesat, hingga direkrut sebuah agensi. Kepopuleran A-ri semakin besar membuat beberapa orang selebgram lainnya merasa cemburu dan melakukan berbagai cara untuk menjatuhkannya.

Di tengah fitnah yang menyerangkan, Seo A-ri tiba-tiba terlibat dalam sebuah insiden berbahaya.

Perlihatkan kehidupan glamor selebritas

 

Drama ini juga menceritakan hubungan pertemanan antara para seleb populer yang tergabung dalam Gabin Society. Meski terlihat akur, namun sebenarnya mereka hanya menjalin hubungan palsu demi keuntungan saja. Di belakang layar, mereka juga saling bersaing untuk menunjukkan kemewahan, popularitas, bahkan mereka juga tak segan untuk saling menjatuhkan.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-drama-korea-celebrity-angkat-sisi-gelap-dunia-seleb-influencer-di-media-sosial/

Review Drama Korea: Celebrity, Angkat Sisi Gelap Dunia Seleb & Influencer di Media Sosial

Selain intrik tersebut, penonton juga diperlihatkan bagaimana kehidupan glamour hingga keuntungan besar yang didapat dari para selebritas. Mulai dari mendapat tawaran endorsement dengan harga mahal hingga membangun bisnis mereka sendiri.

Pendapat saya

Jujur saja, di episode pertama saya sedikit bingung dengan alur maju mundur dari drama ini. Namun, setelah menonton episode kedua dan seterusnya, akhirnya saya bisa memahami jalan ceritanya. Hal yang membuat saya tertarik menonton setiap episode drama Celebrity adalah jalan cerita yang bisa terbilang baru, di mana kisah yang disuguhkan tidak condong ke arah romance.

Selain itu, menurut saya penulis juga berhasil membuat cerita yang tidak mudah ditebak. Di beberapa episode awal saya sempat menebak-nebak jika sosok pemilik akun Instagram @bbbfamous sebenarnya adalah salah satu orang yang ada di dekat Seo A-ri. Saya juga sempat berpikir, jika kemungkinan kasus kematian Seo A-ri adalah perbuatan dari salah satu anggota Gabin Society, yang ditutupi sebagai kasus bunuh diri. Namun, ternyata tebakan saya meleset besar, Bestie.

Last but not least, hal yang perlu diacungi jempol tentunya adalah akting para pemainnya yang sukses memerankan karakter mereka dengan baik. Salah satunya Park Gyu-young yang sukses menggambarkan karakter Seo A-ri yang dingin, keras kepala, kuat, dan berpendirian teguh.

Setelah melihat keseluruhan serial ini, saya pun tahu alasan mengapa drakor ini berhasil mencuri perhatian banyak penonton.

Review One Piece Live Action Season 1, Di Atas Ekspektasi?

Review One Piece Live Action Season 1, Di Atas Ekspektasi? – Serial One Piece Live Action Season 1 sudah tayang di Netflix pada Kamis (31/8/2023). Total ada 8 episode yang tayang sekaligus pada pukul 14.00 WIB. Bagi Nakama yang sudah tidak sabar untuk nonton, baca dulu review serial One Piece Live Action Season 1 berikut ini.

One Piece adalah karya fenomenal Eiichiro Oda dan menjadi salah satu manga paling populer sepanjang masa dengan jutaan penggemar di seluruh dunia. Manga ini menceritakan petualangan epik dari bajak laut Topi Jerami dalam mencari harta karta karun One Piece.

Rumor terkait proyek adaptasi manga One Piece menjadi serial live action sendiri sudah beberapa kali terdengar. Kini, akhirnya impian para penggemar menjadi kenyataan lewat kerja sama Netflix dengan Tomorrow Studios dan Shueisha, serta menggandeng Eiichiro Oda sebagai produser eksekutif.

Sinopsis One Piece Live Action Season 1

Seperti manga dan anime-nya, sinopsis One Piece Live Action menceritakan tentang petualangan Monkey D. Luffy, dan krunya bernama Bajak Laut Topi Jerami. Luffy adalah seorang bocah yang memiliki kemampuan elastis setelah memakan buah iblis, Gomu Gomu. Demi menjadi Raja Bajak Laut, ia berangkat dari desa kecilnya dalam sebuah perjalanan untuk menemukan harta karun berharga, One Piece.

Bersama dengan para kru bajak lautnya, Zoro, Nami, Sanji, dan Usopp, mereka berlayar di lautan Grand Line untuk mewujudkan impian mereka.

Baca Juga: Profil Pemain One Piece Live Action

Adapun pemeran utama yang bermain di serial ini antara lain Inaki Godoy (Monkey D. Luffy), dan Mackenyu (Roronoa Zoro). Kemudian Emily Rudd (Nami), Taz Skylar (Sanji), dan Jacob Romero Gibson (Usopp).

Review Serial One Piece Live Action Season 1

Pada episode pertama, serial ini langsung menampilkan tokoh utama, Monkey D. Luffy yang memiliki ambisi besar untuk menjadi Raja Bajak Laut. Luffy pun bertemu dan menyelamatkan Coby yang awalnya adalah kru kapal Alvida. Episode pertama juga menceritakan awal mula pertemuan Luffy dengan Zoro dan Nami, hingga mengajak mereka bergabung dengan tim kapalnya.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-one-piece-live-action-season-1-di-atas-ekspektasi/

Review One Piece Live Action Season 1 Di Atas Ekspektasi

Efek Visual dan Adegan Aksi

Meski tak sepenuhnya menyerupai visual di anime, One Piece Live Action ini berhasil mengekspresikan semangat dan pesona dari seri aslinya. Dengan hanya melihat trailer-nya pun, penonton sudah bisa menebak kalau CGI dan sinematografi serial One Piece Live Action ini cukup ciamik. Adegan pertarungan yang penuh aksi juga disajikan dengan sangat baik dan terasa begitu intens.

Akting Para Pemain sebagai Karakter Utama

Para aktor yang berperan sebagai karakter utama juga berhasil menampilkan keunikan dan kepribadian dari masing-masing tokoh sesuai dengan penggambaran di anime-nya. Inaki Godoy sukses menggoda penonton dengan ambisinya yang besar, namun juga kocak. Sementara itu, Mackenyu tampak berhasil menghidupkan karakter Roronoa Zoro yang dingin dan karismatik.

Kemampuan akting para pemain yang luar biasa ini mampu menangkap esensi dari masing-masing karakter. Sehingga para penggemar anime dan manga merasa melihat karakter utama One Piece kesayangan mereka dalam kehidupan nyata.

Kesetiaan Serial Live Action pada Cerita Aslinya

 

Berdasarkan ceritanya, serial ini berhasil menampilkan alur cerita yang setia pada cerita aslinya di manga dan anime One Piece. Beberapa kisah masa lalu Luffy pun tersampaikan dengan jelas di serial One Piece Live Action Season 1 ini.

Pencipta film dapat dengan bijaksana memilih momen-momen penting dari cerita aslinya untuk diadaptasi ke dalam serial live action. Hal ini membuat para penggemar dapat mengikuti kembali petualangan Luffy dan kru Bajak Laut Topi Jerami lainnya dalam tampilan yang baru dan segar.

Beberapa Aspek yang Hilang Karena Alasan Waktu

Sayangnya, para penggemar One Piece mungkin akan merasakan adanya bagian-bagian kecil yang hilang dari cerita aslinya dalam serial One Piece Live Action. Namun, tidak semua adegan dan karakter bisa hadir

Serial ini tidak menghadirkan beberapa adegan dan karakter dengan alasan waktu, yang mungkin dapat mengecewakan sebagian penggemar. Satu episode live action One Piece mengadaptasi beberapa episode dari seri anime-nya, sehingga akan sangat terasa perbedaannya di beberapa aspek tertentu.

One Piece versi Live Action Secara Keseluruhan

Namun secara keseluruhan, penonton tetap bisa menikmati adegan-adegan dan cerita penting yang dikemas begitu apik dengan efek visual yang mengagumkan. Kesetiaan serial live action pada manga dan anime aslinya cukup membuat para penggemar tidak merasa terlalu kecewa. Para penonton yang baru atau belum pernah menonton anime One Piece sebelumnya juga dapat menangkap kisah Topi Jerami lewat serial live action ini.

Itu dia review serial One Piece Live Action Season 1 secara keseluruhan. Sobat Pelayar bisa menonton serial One Piece versi live action dari episode 1 sampai 8 yang sudah tayang hanya di Netflix. Selamat menonton!

Review Film: Indiana Jones and the Dial of Destiny

Review Film: Indiana Jones and the Dial of Destiny – Aktor kawakan Harrison Ford kembali membintangi film terbaru Indiana Jones and the Dial of Destiny. Berbeda dari film-film terdahulunya, kali ini Harrison Ford sebagai Indiana Jones masuk ke masa pensiunnya dan berpetualang ke masa lampau untuk menemukan artefak berharga.

Lebih lanjut, simak ulasan saya untuk film Indiana Jones and the Dial of Destiny berikut ini!

Sinopsis film Indiana Jones and the Dial of Destiny

Indiana Jones and the Dial of Destiny bercerita tentang masa pensiun Indi setelah bertahun-tahun mengajar sebagai profesor arkeologi di Hunter College. Hari-hari Indy yang membosankan tiba-tiba berubah setelah putri baptisnya, Helena Shaw, berkunjung mencari artefak langka yang dipercayakan ayahnya kepada Indy bertahun-tahun sebelumnya.

Artefak yang dicarinya adalah Antikythera, sebuah perangkat yang konon memiliki kekuatan menemukan celah dalam waktu dan memungkinkan orang melakukan perjalanan waktu ke masa lalu maupun ke masa depan.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-film-indiana-jones-and-the-dial-of-destiny/

Review Film Indiana Jones and the Dial of Destiny

Tak hanya sampai di situ, Antikythera rupanya juga menjadi incaran Jürgen Voller, seorang mantan Nazi sekaligus musuh lama Indy. Voller pun melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan Antikythera agar dapat kembali ke masa lalu demi mengubah jalannya sejarah dunia.

Hadirkan teka-teki petualangan seru

Secara garis besar, kisah yang ditampilkan dalam film Indiana Jones and the Dial of Destiny sebenarnya bukanlah hal baru. Plot ceritanya sendiri mudah ditebak, namun tetap terasa seru berkat teka-teki petualangan yang menarik untuk diulik. Terlebih, film ini tak semata menyuguhkan aksi dan petualangan saja, tetapi juga menghadirkan nuansa kekeluargaan yang menyentuh.

Menampilkan sosok gagah Harrison Ford

Film ini dimulai dengan latar tahun 1944, ketika Indi berusaha melawan pasukan Nazi untuk merebut kembali barang peninggalan bersejarah yang telah dicuri. Pada adegan tersebut, Indi dan Basil Shaw ditampilkan ke dalam sosok yang kembali ke masa muda seperti saat keduanya muncul di Raiders of the Lost Ark tahun 1982.

Namun, penampilan Indi dan Shaw muda hanyalah tipuan visual, di mana produksi untuk adegan tersebut menggunakan teknologi kecerdasan buatan bernama de-aging. Hal serupa juga disampaikan Harrison Ford kepada Stephen Colbert di “The Late Show”.

Demi mengimbangi tampilan fisik yang kembali muda, Ford juga menampilkan dirinya sebagai pria gagah melalui gerakan cekatan dalam adegan aksi tersebut. Overall, penampilannya memang patut diacungi jempol, terlebih proses syuting film Indiana Jones and the Dial of Destiny sendiri dilakukan ketika dirinya berusia nyaris 80 tahun.

Review Film: Mission: Impossible – Dead Reckoning Part One, Agen IMF Kembali Bertemu Misi Penuh Jebakan

Review Film: Mission: Impossible – Dead Reckoning Part One, Agen IMF Kembali Bertemu Misi Penuh Jebakan – Kesuksesan film Mission: Impossible pada tahun 1996 terus berlanjut. Film ini terus berkembang hingga kini hadir sekuel ke-7, Mission: Impossible – Dead Reckoning Part One. Setelah hampir empat dekade, Tom Cruise masih konsisten memerankan karakter agen rahasia bernama Ethan Hunt.

Pada seri ini juga, Mission: Impossible pertama kalinya membagi cerita menjadi dua bagian.

Apakah film ini masih worth to watch? Yuk, simak ulasan saya untuk Mission: Impossible – Dead Reckoning Part One!

Sinopsis

Film dibuka dengan sebuah prolog yang bercerita tentang sebuah sistem AI yang sangat kuat. Dikenal dengan nama The Entity, sistem AI tersebut tiba-tiba membelot saat masa percobaan di Rusia dan menyebabkan kapal selam serta seluruh penumpangnya tenggelam.

Satu-satunya cara untuk mengendalikan sistem AI tersebut adalah dua kunci yang saling terkait. Mengetahui hal itu, setiap negara ingin memiliki kunci untuk keuntungan mereka sendiri.

Pemimpin IMF, Eugene Kitteridge, pun segera meminta Ethan Hunt untuk menemukan kunci tersebut yang disembunyikan oleh Ilsa Faust, mantan agen MI6 yang bersekutu dengan Ethan.

Setelah mendapatkan satu kunci dan memalsukan kematian Ilsa, Ethan bersama rekannya, Benji Dunn dan Luther Stickell mencoba melacak kunci lainnya. Sayangnya, pencuri bernama Grace berhasil mencurinya terlebih dahulu.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-film-mission-impossible-dead-reckoning-part-one-agen-imf-kembali-bertemu-misi-penuh-jebakan/

Review Film: Mission: Impossible - Dead Reckoning Part One, Agen IMF Kembali Bertemu Misi Penuh Jebakan

Tak bisa dianggap remeh, meski sering terjebak dalam situasi menegangkan bersama Ethan, Grace selalu berhasil melarikan diri sambil membawa kunci lainnya. Yup, kin mereka terjebak di Venesia, menghindari kejaran polisi setempat, pemerintah AS, dan sekelompok tentara bayaran atas nama Entitas.

Suasana semakin menegangkan, Ethan, Ilsa, dan Grace juga harus menghadapi Gabriel, seorang pria yang bertindak atas nama The Entity. Ia tak hanya ingin mendapatkan kunci, namun juga ingin membalaskan dendamnya pada Ethan.

Berhasil membalaskan dendamnya, Ethan dan Gabriel kembali bertemu dan bertarung di  atas kereta Orient Express yang sedang melaju kencang. Sementara itu, Grace menyamar sebagai Alana alias White Widow, pedagang senjata pasar gelap. Ia bertemu dengan Kittridge untuk menjual dua kunci yang saling terkait.

Well, apakah Grace akan tergoda untuk menyerahkan kunci tersebut begitu saja? Akankah Ethan bisa mengalahkan Gabriel dan mendapatkan kunci serta mengetahui lokasi The Entity?

Berdurasi 2,5 jam lebih, film Mission: Impossible – Dead Reckoning Part One terasa sangat panjang. Terlebih pada adegan-adegan awal, penuh dengan dialog pembahasan tentang The Entitiy yang cukup sulit dipahami. Entah mengapa, pace film ini cukup unik.

Terkadang penonton dibuat excited, lalu dipaksa untuk menyimak hingga nyaris bosan, lalu tiba-tiba adegan laga sukses membangkitkan adrenaline rush. Jangan merasa cepat lega karena akan ada banyak situasi menegangkan di depan mata.

Ada satu hal lagi yang patut jadi highlight dan diapresiasi dari film Mission: Impossible – Dead Reckoning Part One. Tidak lain adalah adegan ekstrem yang dilakukan Tom Cruise sendiri, tanpa bantuan stuntman.

Mulai dari adegan terjun bebas, adegan laga di atas kereta yang melaju, dan masih banyak lagi. Bahkan, adegan ketika kereta jatuh dari jembatan dalam film ini juga dilakukan sungguhan, bukan dengan teknologi CGI.

Semakin penasaran? Film Mission: Impossible – Dead Reckoning Part One sudah tayang mulai 8 Juli 2023 di bioskop kesayangan kamu, ya!

Review Film: Hari Ini Akan Kita Ceritakan Nanti, Kilas Balik Kehidupan Narendra di Masa Muda

Review Film: Hari Ini Akan Kita Ceritakan Nanti, Kilas Balik Kehidupan Narendra di Masa Muda – Setelah Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini dan Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang, Angga Sasongko kembali membawa cerita baru, yakni Hari Ini Akan Kita Ceritakan Nanti. Jika sebelumnya membahas Awan dan Aurora, di dunia baru ini kamu akan diajak mengenal lebih jauh dengan Narendra dan Angkasa.

Bagaimana kelanjutan kisahnya? Yuk, simak ulasan lengkap saya untuk Hari Ini Akan Kita Ceritakan Nanti.

Sinopsis

Universe baru ini dimulai dengan tragedi kecelakaan kereta api Bintaro tahun 1987 yang menewaskan 139 orang, salah satunya Wildan, kakak Narendra. Yap, di sini kamu akan bertemu dengan Narendra muda (Jourdy Prananta) yang masih berusia 25 tahun.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-film-hari-ini-akan-kita-ceritakan-nanti-kilas-balik-kehidupan-narendra-di-masa-muda/

Review Film Hari Ini Akan Kita Ceritakan Nanti Kilas Balik Kehidupan Narendra di Masa Muda

Kecelakaan ini membawa trauma yang besar untuk Narendra, mengingat Wildan lah yang mengajak dirinya untuk merantau dan kuliah di Jakarta. Di tengah kepedihan itu, Narendra bertemu dengan Ajeng (Yunita Siregar) yang sedang gelisah menunggu ibunya di rumah sakit.

Pertemuan tidak sengaja itu membuat keduanya semakin dekat dan saling jatuh cinta. Tak semudah itu, keluarga Ajeng yang berasal dari kalangan orang terpandang tidak merestui hubungannya dengan Narendra yang berasal dari keluarga biasa saja. Apakah mereka berhasil bersatu? Of course, jika tidak, film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini tidak mungkin ada.

Oh iya, film ini mengambil alur maju mundur, jadi kamu jangan bingung, ya!

Di masa depan, 2 tahun setelah cerita Aurora Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Pulang, Angkasa (Rio Dewanto) sudah menikah dengan Lika (Agla Artalidia) dan menetap di Bali. Sedikit flashback, hubungan Angkasa dengan ayahnya, Narendra (Donny Damara), memang tidak pernah akur.

Tak heran jika Angkasa memilih untuk “kabur” dari bayang-bayang ayahnya. Keputusannya tersebut ternyata tidak membawa hasil. Angkasa semakin emosional, hingga mempertaruhkan rumah tangganya. Lagi-lagi, Narendra kembali hadir ke hidup Angkasa.

2 garis waktu, 2 keluarga, 2 cerita

 

Review Film Daredevil, Pahlawan Super yang Bangkit dari Kekurangan Demi Niat Baik

Review Film Daredevil, Pahlawan Super yang Bangkit dari Kekurangan Demi Niat Baik – Apakah Anda penikmat film superhero yang selalu siap sedia membasmi kejahatan? Ada banyak tokoh pahlawan fiksi yang sukses menarik perhatian masyarakat. Salah satunya adalah Daredevil yang terkenal melalui komik Marvel.

Layaknya komik Marvel lainnya, Daredevil pun akhirnya diangkat ke layar lebar dengan menggandeng Ben Affleck sebagai tokoh utamanya. Ia berperan sebagai dua karakter sekaligus yakni Matt Murdock dan juga pahlawan bertopeng Daredevil.

Untuk versi filmnya sendiri, Daredevil pertama kali dirilis pada pertengahan Februari 2003 silam. Selain Ben Affleck, aktor papan atas lainnya yang terlibat adalah Jim Fitzgerald, Michael Clarke Duncan, hingga Colin Farrell.

Seperti film Spiderman, tokoh pahlawan tidak serta merta langsung muncul begitu saja. Sebuah insiden kecelakaan menghampiri karakter Matt Murdock yang membuat dirinya bisa mendapatkan keahlian khusus walaupun itu harus mengorbankan indera penglihatannya.

Untuk Anda yang belum pernah menonton film Daredevil, bisa kembali menontonnya melalui layanan streaming Vidio. Namun sebelum itu, simak berikut ini review film selengkapnya.

Efek Lebih Baik dari Film Superhero Serupa di Masanya

Rilis di tahun 2003, film Daredevil tidak mau ketinggalan menggunakan efek kamera yang luar biasa untuk menciptakan adegan yang lebih mendramatisir.

Jika membandingkan film Daredevil dengan film-film Marvel lainnya yang dirilis di era yang sama, tampaknya efek CGI yang ditampilkan terasa lebih baik.

Jika Anda melihat kembali film Spiderman yang dirilis pada 2002, bisa dibilang kualitas Daredevil selangkah lebih maju. Hal ini terlihat dari objek yang diberikan efek seperti benda melayang dan yang lainnya.

Namun, jika Anda memang mencari film superhero yang penuh dengan aksi perkelahian, Anda harus sedikit kecewa. Kembali membandingkan dengan film SpidermanDaredevil terlihat jarang terlibat pertikaian fisik dengan musuh-musuhnya.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-film-daredevil-pahlawan-super-yang-bangkit-dari-kekurangan-demi-niat-baik/

Review Film Daredevil, Pahlawan Super yang Bangkit dari Kekurangan Demi Niat Baik

Karakter Utama Kurang Ditonjolkan

Satu hal kekurangan dari film Daredevil adalah tokoh Matt Murdock yang kurang disorot kehidupan pribadinya.

Di awal pembukaan film, Matt remaja terlihat hidup bersama ayahnya yang begitu religius. Sebuah pembunuhan oleh orang tak dikenal pun membuat dirinya harus berpisah untuk selamanya.

Ketika Matt sudah beranjak dewasa, dirinya yang bekerja sebagai seorang pengacara tidak terlalu digambarkan dengan jelas. Ia hanya beberapa kali masuk ke pengadilan untuk meyakinkan penonton bahwa profesi utama dari sang pahlawan tak jauh dari advokat.

Karakter Matt justru lebih sering diturunkan pada sebuah diskusi bersama sahabatnya di sebuah restoran pada malam hari.

Berlatar Kota Besar

Layaknya film superhero keluaran Marvel lainnya seperti Spiderman hingga Hulk, Daredevil seolah kembali memotret kejahatan yang terjadi di kota besar seperti New York. Bukan saja karena tempat tinggal sang karakter sebagai manusia biasa, tapi juga para musuh ditemukan di sini.

Satu hal yang membuat Daredevil terlihat menarik untuk disaksikan adalah karena penggunaan kota New York yang dijadikan sebagai latar tempat hampir keseluruhan cerita. Namun yang membuatnya berbeda dengan cerita superhero lainnya adalah kurangnya detail dalam setiap lanskap kota yang diambil.

Jika dalam film Spiderman sang superhero terlihat seolah mengeksplorasi setiap suduh kota dan bangunan terkenal, Daredevil justru tidak begitu menonjolkan keindahan kota New York itu. Bahkan perkelahian antar dirinya dengan musuh-musuhnya hampir kebanyakan terjadi di dalam ruangan.

Cinta yang Kandas

Walaupun mengusung tema film superhero, sisipan cerita romansa tetap saja tidak bisa dihilangkan. Mungkin ini juga yang membuat film ini tidak terlalu kaku dan tidak fokus pada adegan saling pukul saja.

Hampir sama dengan kebanyakan tokoh pahlawan Marvel lainnya, tampaknya penggemar Daredevil tidak bisa mengharapkan kisah cinta yang berakhir bahagia.

Hubungannya dengan Elektra harus kandas ketika Bullseye dengan lincahnya menghabisi wanita yang dicintai oleh sang pahlawan.

Review Film: The Equalizer 3, Penampilan Denzel Washington Lawan Mafia Italia dengan Penuh Kharisma

Review Film: The Equalizer 3, Penampilan Denzel Washington Lawan Mafia Italia dengan Penuh Kharisma – Aktor kawakan Denzel Washington akhirnya kembali muncul di layar lebar lewat film trilogi terbarunya, The Equalizer. Dalam film ketiga ini, Denzel yang mengulangi perannya sebagai Robert McCall yang bertolak ke Italia Selatan untuk melarikan diri dari masa lalu. Alih-alih mendapatkan kedamaian, dia justru terlibat dengan Mafia Sisilia.

Selengkapnya, ini dia sinopsis hingga ulasan film The Equalizer 3 yang tayang mulai hari ini (30/08).

Sinopsis film The Equalizer 3

Film The Equalizer 3 dibuka dengan sekelompok pengedar narkoba di kebun anggur Italia yang tewas mengenaskan akibat dibunuh Robert McCall. Meski berhasil melenyapkan musuhnya, McCall mengalami luka tembak dan diselamatkan oleh polisi baik hati (Eugenio Mastrandrea) yang membawanya ke seorang dokter di kota kecil.

Saat proses recovery, dia menjalin hubungan dengan penduduk setempat yang akhirnya membuat dia diterima di lingkungan tersebut. Namun, McCall kemudian menyadari kehadiran para mafia yang mengancam dan memeras para penduduk.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-film-the-equalizer-3-penampilan-denzel-washington-lawan-mafia-italia-dengan-penuh-kharisma/

Review Film: The Equalizer 3, Penampilan Denzel Washington Lawan Mafia Italia dengan Penuh Kharisma

McCall pun mulai tergerak untuk melindungi penduduk yang merupakan teman-teman barunya dari kekuasaan mafia. Tak sendiri, McCall turut melibatkan CIA untuk melakukan investigasi terhadap sesuatu yang buruk dan besar di balik kehadiran para mafia tersebut.

Dikemas dalam porsi yang seimbang

Berbeda dari film action pada umumnya, The Equalizer 3 memiliki porsi yang seimbang antara adegan aksi dan suguhan cerita yang dibangun. Meski begitu, film ini mampu menyuguhkan percakapan, detail cerita, hingga suasana kota Italia Selatan yang apik dan terkesan jauh dari kata monoton.

Saya pribadi bahkan menikmati dan merasa penasaran dengan setiap adegan yang ditampilkan dalam film ini. Sayangnya, memang ada beberapa adegan yang plot hole sehingga menyajikan pergantian scene yang kurang mulus.

Review Film: Ketika Berhenti di Sini, Cerita tentang Kehilangan, Perpisahan, & Perjalanan Baru

Review Film: Ketika Berhenti di Sini, Cerita tentang Kehilangan, Perpisahan, & Perjalanan Baru – Perpisahan, kehilangan, dan kematian adalah momen yang paling sulit untuk dilupakan, at least untuk saya pribadi. Namun, sejak membaca sinopsis Ketika Berhenti di Sini yang mengangkat konsep AI, saya akhirnya memutuskan untuk menontonnya di bioskop.

Buat kamu yang masih ragu, mungkin ulasan ini bisa membantumu.

Sinopsis

Dita (Prilly Latuconsina), seorang creative designer yang sedang mencoba hidupnya kembali pasca kematian ayahnya. Ia bahkan nyaris tidak memiliki tujuan apa-apa lagi, dan memilih untuk hidup seperti robot. Makan, ke kampus, menggambar, bertemu teman, on repeat. Ya, Dita memang belum bisa menerima kematian itu karena ia dihantui rasa bersalah. Beruntung ada Ifan (Refal Hady), Untari (Lutesha), dan Awan (Sal Priadi), yang selalu menemaninya.

Hidup Dita yang flat tiba-tiba menjadi berubah sejak pertemuannya dengan Edi (Bryan Domani). As expected, keduanya saling jatuh cinta, Dita pun kembali menemukan kebahagiaanya.

Empat tahun berjalan, hubungan mereka ternyata semakin renggang. Nahasnya, saat sedang bertengkar hebat, Edi meninggal karena sebuah kecelakaan. Dita lagi-lagi harus menghadapi trauma akan kematian untuk kedua kalinya.

As time goes by, Dita mendapatkan sebuah kacamata dengan teknologi AI, di mana siapa pun yang memakainya akan melihat Edi sebagai virtual assistant layaknya manusia biasa. Kado ini ternyata sudah Edi persiapkan jauh sebelum kepergiannya.

Dita yang sudah bisa berdamai, tiba-tiba menjadi hilang kendali karena merasa Edi kembali hadir di hidupnya, meskipun hanya sebatas AI. Ia semakin tidak bisa membedakan antara kehidupan nyata dan virtual.

Bagaimana nasib Dita? Apakah ia bisa move on dari kematian Edi?

Filosofi kehidupan manusia yang searah dengan mata angin

Film Ketika Berhenti di Sini dibuka dengan narasi menarik tentang filosofi mandala, yang juga jadi salah satu alasan Dita menekuni bidang design. Tak hanya sebuah motif lingkaran, mandala memiliki filosofi yang lebih kompleks dan dalam. Mandala kerap dianggap sebagai alam semesta dengan titik pusat yang mewakili perpaduan harmonis antara diri sendiri dengan lingkungan.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-film-ketika-berhenti-di-sini-cerita-tentang-kehilangan-perpisahan-perjalanan-baru/

Review Film Ketika Berhenti di Sini Cerita tentang Kehilangan Perpisahan Perjalanan Baru

Empat titik mandala yang dijelaskan di film ini menggambarkan empat fase kehidupan Dita. Mulai dari Utara yang penuh dengan keserakahan, Barat yang penuh cinta, Selatan yang penuh amarah dan luka, lalu Timur yang jadi titik terakhir penuh kedamaian.

Penggunaan filosofi mandala ini menjadi poin menarik dan great comeback untuk Umay Shahab sebagai sutradara. Mengingat film pertamanya yang tidak meninggalkan kesan apa pun untuk saya.

Pendapat saya

Cara Umay membingkai perasaan kehilangan untuk memulai perjalanan baru lewat teka-teki dari Edi untuk Dita terasa apik dan rapi. Chemistry Prilly dan Bryan pun patut diapresiasi. Terasa luwas, natural, dan apa adanya. Oh iya, shout out untuk akting Prilly yang sangat totalitas, terutama pada adegan menangis.

Tak mudah untuk seseorang akting menangis, apalagi di film ini Prilly diceritakan memiliki trauma sangat mendalam. Mulai dari gesture gemetar, teriak, depresif, you did great, Prilly!

Konsep AI yang menjadi highlight utama pun terlihat matang. Tidak sekadar gimmick saja. Beberapa detail terkait AI cukup terlihat believable dan relevan dengan zaman sekarang.

Poin menarik lainnya adalah pemilihan soundtrack yang ciamik! Saya bahkan auto cari daftar playlist-nya.

Sayangnya, di 30 menit terakhir, cerita film ini terasa melemah. Emosi dan tense yang sudah dibangun kuat sejak awal perlahan mulai runtuh. Duo combo, Untari dan Awan, terasa hanya tempelan di film ini, padahal kehadiran mereka menjadi nyawa penting. Refal Hady sebagai Ifan, sahabat sekaligus kekasih Dita, pun somehow terasa hambar.

Saya juga merasa screentime Cuti Mini sebagai ibu Dita dan Widyawati sebagai oma Edi masih bisa ditambah untuk mengembalikan emosi yang sempat hilang.

Resensi Film Kembang Api: 4 Orang Kopi Darat untuk Akhiri Hidup Bersama Tapi Gagal Melulu Sampai Emosi

Resensi Film Kembang Api: 4 Orang Kopi Darat untuk Akhiri Hidup Bersama Tapi Gagal Melulu Sampai Emosi – Kembang Api adalah karya sineas Herwin Novianto yang diadaptasi dari film Jepang berjudul 3ft Ball and Soul garapan sutradara Yoshio Kato. Film ini tayang di bioskop mulai 2 Maret 2023.

Dibintangi Marsha Timothy, Ringgo Agus Rahman, Donny Damara, dan Hanggini, film Kembang Api rilisan Falcon Pictures bergerak lewat premis unik tentang empat orang yang mencoba bunuh diri.

Langit Mendung (Donny Damara), Anggrek Hitam (Ringgo Agus Rahman), Tengkorak Putih (Marsha Timothy), dan Anggun (Hanggini) adalah anggota grup WhatsApp Kembang Api.

Mereka bermufakat bertemu di sebuah gudang tak berkunci untuk bunuh diri bersama dengan meledakkan diri pakai bola kembang api. Berikut resensi film atau review film Kembang Api.

Langit Mendung

Langit Mendung membuat bola kembang api raksasa terbungkus kertas cokelat bertuliskan “urip iku urup.” Dalam bahasa Indonesia, berarti hidup itu menyinari lingkungan sekitar. Beberapa menit kemudian, Anggrek Hitam dan Tengkorak Putih datang dengan wajah kusut.

Anggun yang masih SMA terlambat 15 menit karena ada praktikum bahasa di sekolah. Mereka lantas meledakkan diri dengan bola kembang api. Anehnya, Langit Mendung balik lagi ke gudang dalam kondisi tubuh dan tulang utuh, segar bugar.

Sejurus kemudian, Anggrek Hitam dan Tengkorak Putih datang dengan wajah kusut. Anggun datang terlambat 15 menit karena ada praktikum bahasa. Ketiganya tak ingat bahwa sebelumnya pernah bertemu untuk bunuh diri. Langit Mendung menduga ini dejavu.

Setelahnya, mereka meledakkan diri lagi dengan bola kembang api. Apes. Langit Mendung kembali ke gudang dalam kondisi sehat. Anggrek Hitam datang. Ia syok mendapati diri hidup lagi. Padahal, ia ingat betul telah memencet tombol detonator lalu kembang api meledak. Apa yang terjadi?

80 Persen…

Kembang Api tak membawa penonton ke mana-mana karena hampir 80 persen film ini berisi adegan di gudang. Keempat tokoh pun pakai baju dan properti yang sama, menghadap bola kembang api raksasa.

Ajaibnya, film ini tak lantas membosankan. Rahasianya, terletak pada inteprestasi para bintang yang meyakinkan. Donny Damara sebagai yang paling tua mengambil pendekatan paling relaks.

Sebagai “dedengkot” yang mengide bunuh diri, ia santuy karena punya persiapan paling paripurna dari aspek motivasi, surat permintaan maaf kepada keluarga, hingga membaca sejumlah kemungkinan jika aksi bunuh diri ini berhasil.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/resensi-film-kembang-api-4-orang-kopi-darat-untuk-akhiri-hidup-bersama-tapi-gagal-melulu-sampai-emosi/

Resensi Film Kembang Api

Marsha dan Ringgo

Ringgo dan Marsha mengambil pendekatan hampir sama, yakni pasang wajah muram sebagai “sinyal” bahwa beban hidup mereka berat. Bedanya, ada di latar belakang. Ringgo depresi karena berkali bunuh diri tapi gagal melulu.

Marsha, meski kelam, masih punya empati untuk memahami persoalan orang-orang yang baru dikenalnya. Hanggini adalah kejutan. Ia tipikal anak Jakarta pada umumnya.

Dengan aksesn khas anak gaul Ibu Kota, sumbu pikir pendek, merasa paling berat hidupnya, dan berpedoman jalan pintas seperti mengakhiri hidup adalah solusi efektif membereskan persoalan.

Temanya Kelam

Temanya kelam. Para tokoh kehilangan harapan, memilih tak punya harapan, dan ogah melihat harapan yang sebenarnya ada namun tertutup masalah yang seolah setinggi puncak Everest.

Dengan empat ujung tombak yang depresif, bukan berarti Kembang Api jadi gelap, suram, dan lebay. Donny dan Hanggini adalah pencair suasana meski setelah penonton tahu masalah mereka sebenarnya, terasa betul beratnya beban keduanya.

Sensasi komedi ditabur dari kegagalan bunuh diri yang terjadi berkali-kali, salah ucap, gugatan terhadap aturan grup WhatsApp hingga salah satu tokoh menjadi kaum “mendang-mending” lantaran merasa masalahnyalah paling berat dan yang lain cetek.

Menertawakan Masalah

Penonton diajak menertawakan masalah layaknya ujaran orang Jawa kekinian: Kuat dilakoni, yen ora kuat ditinggal ngopi. Poin pentingnya, di balik gelak tawa melihat polah para tokoh, penonton diajak berpikir tentang banyak hal.

Pertama, siapa sih yang paling berhak mengakhiri hidup? Kedua, apa definisi dewasa dan kuat mental menghadapi persoalan? Ketiga, sudah cukupkah kita menyayangi diri sendiri dan keluarga (selama ini)? Keempat, benarkah masalah kita lebih berat dari orang lain?

Terakhir, mengapa begitu yakin bahwa masalah Anda paling berat sehingga merasa punya hak untuk bunuh diri? Memangnya, masalah Anda sudah ditimbang dan dibandingkan dengan berat masalah orang lain? Memangnya ada alat penimbang masalah hidup?

Urip Iku Urup

Setelah pertanyaan terakhir terjawab, silakan kembali ke pertanyaan awal. Inilah benih-benih perenungan yang diceritakan dengan detail dan rapi oleh Herwin Novianto. Tanpa menggurui karena sejatinya para tokoh di film ini belajar memaknai masalah, hidup, dan berempati.

Dari proses trial and error percobaan bunuh diri, penonton menginsyafi banyak hal. Herwin Novianto pernah membuai kita dengan Aisyah Biarkan Kami Bersaudara. Kembang Api adalah comeback Herwin yang simpel, jenaka, berdimensi sekaligus mengesankan.

Saat keluar dari bioskop, saya bertanya-tanya: bagaimana mau urup kalau yang urip malah pengin mati? Pertanyaan sederhana, nyelekit, dan menggiring kita berkaca kepada pikiran dan hati. Dengan catatan, hati dan pikiran kita harus bening. Oke?

Review Film Selesai, Angkat Kisah Perselingkuhan yang Kerap Terjadi di Dunia Nyata

Review Film Selesai, Angkat Kisah Perselingkuhan yang Kerap Terjadi di Dunia Nyata – Kisah perselingkuhan sudah menjadi hal yang biasa di dengar, mulai dari hubungan yang hanya sebatas pacaran hingga yang sudah menikah. Berbagai kisah viral tentang perselingkuhan juga menjadi perbincangan sendiri di berbagai platform sosial media.

Bukan menjadi hal yang tabu lagi untuk dibahas, seperti isu yang diangkat untuk salah satu Film Indonesia berjudul Selesai. Dibintangi oleh aktor dan aktris ternama Indonesia yaitu Gading Marten, Ariel Tatum, dan Anya Geradine yang akan memerankan hubungan cinta segitiga.

Selain ketiga pemeran utama tersebut, film Selesai juga dibintangi aktor dan aktris lainnya seperti  H. Imam Hendarto Sukarno, Tika Panggabean, Faris Nahdi, dan Marini Burhan.

Cerita dari film ini mungkin akan sesuai dengan berbagai kasus yang terjadi di dunia nyata dan kehidupan sehari-hari yang dialami berbagai pasangan. Penasaran? Yuk simak review film dan sinopsisnya berikut!

Sinopsis

Bercerita tentang kehidupan suami istri yang diperankan Ariel Tatum dan Gading Marten. Sang istri bernama Ayu dan suaminya bernama Broto. Sebuah kejadian yang mengawali terungkapnya sebuah pengkhianatan dalam sebuah hubungan.

Saat itu Ayu menemukan sebuah barang berupa celana dalam yang pasti bukan miliknya dan bertuliskan nama seorang perempuan yaitu Anya.

Baca Juga : https://nymeriatv.com/review-film-selesai-angkat-kisah-perselingkuhan-yang-kerap-terjadi-di-dunia-nyata/

Review Film Selesai, Angkat Kisah Perselingkuhan yang Kerap Terjadi di Dunia Nyata

Sontak Ayu merasa kecewa dan meminta berpisah dengan Broto. Karena itu bukanlah pertama kalinya, ternyata Broto sudah 3 kali diketahui berselingkuh dengan Anya. Kali ini hal yang menyakiti Ayu kembali terulang, sehingga pilihan bercerai adalah yang sangat diinginkannya kali ini.

Sulit Berpisah

Namun ada kejadian yang membuat mereka sulit untuk berpisah, yaitu ibu Broto yang juga mertua Ayu. Sang mertua memang sangat menyayangi menantunya seperti anak sendiri, begitu juga Ayu yang tidak ingin menyakiti hati mertuanya.

Saat terjadi pertengkaran kembali antara Ayu dan Broto, sang mertua datang dan ingin menginap disana. Takut akan membuat ibunya sedih dan khawatir mereka berpura-pura tidak memiliki masalah saat itu.

Banyak cerita dan rahasia yang menyebabkan perselingkuhan ini ada, apakah hanya dari Broto atau Ayu juga memiliki andil di dalamnya. Hingga sang mertua sebenarnya tau apa yang terjadi pada mereka, bagaimana kelanjutan hubungan ini?

Nonton Film Selesai di Vidio!

Film Selesai merupakan salah satu film Indonesia yang memiliki banyak pesan moral di dalamnya. Berlatarkan tahun 2020 saat virus corona sedang mewabah dengan luasnya. Anda bisa nonton film Selesai melalui platform streaming Vidio.

Dukung dunia perfilman Indonesia dengan menonton melalui platform resmi seperti Vidio. Nikmati juga film seru lainnya dengan download aplikasi Vidio di playstore ataupun app store di handphone Anda, untuk mencoba pengalaman menonton dimana saja dan kapan saja!